Kantin yang lantak dengan mahasiswa-mahasiswa seumurnya merupakan satu-satunya tempat terlarang yang sangat dihindari oleh Nando. Dia selalu membawa bekal makanan dari rumah dan memakannya di bawah pohon akasia dekat fakultas dia kuliah. Hanya seorang diri, namun bukan berarti dia kurang bergaul. Temannya banyak tapi dia lebih memilih untuk sendiri dalam hal apapun. Dia tak pernah memiliki buku diktat kuliah super tebal yang seharusnya wajib dimiliki oleh semua mahasiswa, tetapi hanya mengandalkan modul-modul intisari dari dosen. Sebenarnya dia jenius, tapi dia memilih untuk tidak menjadi pintar karena situasi yang memaksanya demikian.
“Hei Nando, ngapain lo sendirian di situ? Mo jadi penunggu pohon akasia?” cerocos Kimi sambil menyambar salah satu potongan sandwich di dalam kotak makan siang Nando. Ekspresi wajah Nando terlihat dia ingin protes, tapi tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Kimi melempar tasnya di rerumputan sebelah Nando, lalu duduk dengan menyelonjorkan kaki.
“UAS bentar lagi nih. Mana bahannya banyak banget! Ngomong-ngomong, kok gua ga pernah liat lo bawa textbook sih? Bahkan pas UTS openbook pun engga. Hebat bener lo ya!” lanjut Kimi.
“Stop!!!” hanya itu yang keluar dari mulut Nando. Sejurus kemudian dia bangkit lalu menghambur pergi dan hanya meninggalkan tanda tanya besar dalam benak Kimi. Absurd, mungkin hanya itu satu-satunya kata yang bisa mendeskripsikan respon Kimi pada waktu itu. Padahal pagi ini Nando terlihat baik-baik saja, tapi entah kenapa ketika Kimi menyapanya siang ini, dia seperti menjelma menjadi seorang musuh besar, alih-alih sebagai seorang teman dekat yang sehari-harinya selalu menjadi teman belajar Nando di perpustakaan.
Seperti ada gejolak dari dada Nando sampai-sampai dia merasa mual. Wajahnya sudah memutih seperti orang kekurangan darah. Sebentar lagi masih ada satu kuliah yang harus dilewatinya. Tapi Nando memilih untuk langsung menghambur ke jalan dan mencari tempat yang sepi. Bukan karena kuliahnya tidak penting, melainkan Nando tidak ingin bertemu dengan dosen. Tidak ada yang salah dengan sang dosen, beliau pandai mengajar, tetapi Nando tidak suka dengan cara mengajarnya. Sudah enam mata kuliah yang dijalani sebelumnya gagal, hanya karena persentase kehadirannya di kelas kurang dari dua puluh persen. Bukan soal dia tidak suka dengan mata kuliahnya, hanya saja dia tidak suka berada di kelas lama-lama, apalagi sang dosen terlalu banyak bicara.
Nando berjalan tergesa menyeberangi jalan, tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita paruh baya berkacamata. “Ma-maaf..” ucap Nando sebelum melangkah ke arah yang ditujunya semula.
“Tunggu!” teriak wanita itu, sontak membuat Nando membalikkan badannya lagi ke arah jalan raya. “Apa kita pernah bertemu?” tanya wanita itu, berjalan mendekat ke arah Nando.
“Tidak.” jawab Nando singkat, wajahnya terlihat sedikit bingung.
Wanita itu mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengan lelaki muda yang sedang berdiri di hadapannya dengan kikuk itu.
***
Seorang wanita paruh baya membuka pintu kayu berkaca buram. Di bagian tengahnya tergantung papan nama bertuliskan dr. Velia Iskandar, SpKJ. Sudah 20 tahun ia praktek di situ, dan daftar kliennya meningkat pesat dari hari ke hari, sampai-sampai mereka harus membuat janji sebulan sebelum, untuk bisa berkonsultasi dengannya. Wanita itu berjalan ke arah sofa hitam di sisi kiri ruangan, melepas kacamata dan menaruhnya di meja. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia mengambil dan mengenakan kacamatanya kembali, lalu berjalan cepat ke laci peyimpanan berkas di pojok ruangan. Ia memilah petunjuk abjad, mencari arsip sebuah nama.
“Ini dia.” ucapnya pelan, namun bersemangat. Ia mengeluarkan arsip lama bertuliskan nama ‘Nando Panca’. Ia membuka cover arsip itu, berjalan perlahan kembali ke sofa, lalu duduk dengan posisi punggung condong ke depan, serius meneliti arsip lama itu.
“Hippopotomonstrosesquippedaliophobia.. Ini kasus unik, aku tidak mungkin lupa.” ucapnya pelan penuh arti. Ingatannya melayang pada kejadian di ruang prakteknya itu, belasan tahun yang lalu.
-
***
“Nando, Nando..” seorang wanita berambut ikal coklat memanggil-manggil anak lelakinya dengan panik, kedua tangannya mencengkeram bahu anak itu.
“Tenang Bu, Ibu kembali ke kursi ya! Tenang, saya jamin dia baik-baik saja. Walaupun tidak mudah, tapi Nando harus belajar menghadapinya secara bertahap.” ucap Velia lembut namun tegas.
Velia menuliskan catatan pada file Nando, tentang respon anak itu pada sesi terapi kali ini. Nando, anak yang tidak tahan membaca ataupun mendengar sebuah kata panjang, apalagi kalimat panjang yang diucapkan tanpa jeda. Pada sesi sebelumnya, Nando bahkan mendadak sesak napas dan muntah hanya karena Velia menunjukkan halaman pertama sebuah novel ke hadapannya. Velia sampai harus menelepon koleganya di London, seorang psikiatris yang sering menangani kasus phobia, untuk meminta saran mengenai cara terapi terbaik bagi Nando.
***
-
“Kau tampak jauh lebih baik Nando, tapi sepertinya dunia luar masih sangat sulit untukmu. Sayang sekali kau berhenti melakukan terapi waktu itu..” bisik Velia pada dirinya sendiri, sesaat sebelum perawat masuk dan menyerahkan tumpukan file pasien-pasien yang sudah mengantri di luar ruang prakteknya.
***
Di luar sana, Nando segera berlari mengasingkan diri dari kerumunan manusia seakan-akan dia bisa mendengar mereka berbicara tanpa henti. Dengan kedua tangannya, Nando segera menutup telinganya rapat-rapat sampai akhirnya dia menemukan tempat persembunyian yang aman. Seketika dia merapat ke pojok ruangan lalu menangis dalam kesunyian. Sambil merasakan kegetiran yang masih terasa di dadanya, dia bergumam lirih, “Kenapa? … Kenapa? …Berikan aku … satu kata sederhana …”
-
Ditulis oleh @krisnafir dan @eriek_sobieski untuk #20HariNulisDuet Hari ke-9 yg bertema RAHASIA.






Posted by Eriek Sobieski on 20 February 2012 at 8:13 pm
melihat tulisan ini aja aku udah berasa mengidap Hippopotomonstrosesquippedaliophobia huahahahaha, panjang amir ya ini nama phobianya