Merindukanmu, siang dan malam.
Tertatih-tatih berusaha meneladanimu.
Merindukanmu, fajar dan petang.
Berperang dengan nafsu, yang tak lelah menyelimutiku.
-
Aku sadar, ini harapan yang terlalu liar.
Dengan dosaku yang bergunung-gunung, dan catatan amalku yang begitu ringan.
Manalah mungkin, di hari akhir nanti, aku dapat berjumpa denganmu?
Tapi tetap saja, aku merindukanmu, wahai junjunganku.
-
Dalam Raudhah yang sejuk, aku berdiri menghadap sekat indah, mengarah ke makam-mu.
Kuhantarkan serangkai shalawat, mewakilkan salam rinduku yang membuncah.
Berdesakkan bersama mereka, yang bertubuh dua kali lebih besar dariku, pun tak mengapa.
Karena aku tahu, mereka juga sangat rindu padamu.
-
Merindukan manusia lain, kurasa lebih banyak menyiksa.
Dan pada akhirnya, yang kudapat hanyalah sia-sia.
Tapi merindukanmu, memberiku kekuatan untuk bertahan hidup.
Dan katakanlah padaku, apakah yang lebih seru daripada menjalani hidup?




