Tentang #15HariNgeblogFF

Apa sih #15HariNgeblogFF? Ini adalah gerakan *ciyeh* menulis Flash Fictions (cerita super pendek) selama 15 hari berturut-turut di blog, yang diprakarsai dan dikoordinir oleh @WangiMS dan @momo_DM.

[Info bisa dilihat di http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/]

1. JUDUL

Awalnya aku bingung, karena judul per hari, yang ditentukan oleh masmin Momo dan yumin Unge memancing kegalauan. Hihi. Meskipun FF-nya kubuat happy ending pun, ujung-ujungnya tetap bikin aku galau, secara lagi ga punya object of affection *curcol* :p. Tapi ternyata, dengan judul-judul yang ditentukan, justru mempermudahku mengumpulkan ide. Analoginya : lebih gampang menangkap ikan dalam kolam kan ketimbang menangkap ikan di sungai? Ga nyambung yah? Ya gitulah pokoknya, haha..

2. SETTING

Berhubung obsesiku keliling dunia belum kesampaian, latar tempat dari beberapa FF kubuat berkeliling dunia. Afrika Selatan, Hong Kong, India, Praha, Turki, Spanyol, Australia, Medinah, Jerman dan sisanya di Indonesia. Tebak sendirilah masing-masing yang mana, hehe. Hanya menjumput sebagian kecil ciri khas dari masing-masing tempat itu, tentunya dengan berkonsultasi pada om Google dan paman Wiki. Kalau ada detil atau pengejaan yang salah, mohon koreksi di kolom komentar yah, makasih.. :)

3. KLIMAKS CERITA

Nah ini bagian yang paling sulit! Lihat saja FF-ku, terutama di hari-hari pertama, banyak yang ending-nya menggantung. Bagaimana membuat klimaks dalam cerita kurang dari 500 kata, dan ending-nya tidak menggantung? Entahlah, seperti quotes-nya @nulisbuku, tips menulis terbaik adalah : Menulis. Melalui #15HariNgeblogFF ini, di mana aku memaksakan diri untuk menulis setiap hari, mudah-mudahan tulisanku semakin layak baca, dibandingkan 15 hari sebelumnya. ;)

4. SEGMEN PEMBACA

Satu hal yang kupelajari selama mempromosikan FF-ku ini : Jangan tawarkan duren pada orang yang tidak suka makan duren. Eh. Maksudnya, Jangan Menawarkan Bukumu pada Orang yang Tidak Suka Membaca! Logika sederhananya begini : Kalau membaca FF yang kurang dari 500 kata saja dia tidak sanggup, bagaimana mungkin ia mau membaca novelmu? Selain itu, orang yang tidak suka membaca, biasanya (maaf) kurang bisa menangkap isi dialog. Apalagi kalau dialog-dialog itu ditulis dalam format berbeda : email, chat, atau SMS misalnya. Jadi, sesuai ilmu marketing yang saya pelajari di bangku kuliah *ehem*, kenalilah segmen potensialmu, supaya promosi yang dilakukan efektif dan efisien.

5. ADMIN #15HariNgeblogFF

Terus terang, saya salut dengan kedua admin yang luar biasa ini. Mereka memfasilitasi link submission, membaca semua FF + mention yang masuk, lalu memberi komentar sekaligus men-share via twitter. Semua dilakukan di sela-sela kesibukan bekerja. Saya sendiri, setiap hari, baru membaca sebagian FF milik peserta lain saja, kelopak mata sudah berdenyut-denyut menyerah kecapekan. Atau mungkin, saya perlu kacamata minus yah? Umm..sorry, that’s out of topic. Intinya, hanya orang-orang berdedikasi tinggi-lah yang mampu menyelesaikan proyek semacam ini! *Angkat topi, angkat jempol, angkat gelas untuk duet masmin Momo (@momo_DM) dan yumin Unge (@WangiMS)*.

All in all, #15HariNgeblogFF pushed my limit of writing. Siapa bilang, galau tidak menghasilkan? Dan bukan cuma menghasilkan cerita galau (tolong baca dulu semua FF-nya yah, sebelum men-judge bahwa setiap tulisan bertema cinta pasti galau) ^_^V. Bonusnya, saya bertemu banyak teman-teman berbakat, serta menikmati membaca hasil karya mereka *berharap bisa kopdar juga suatu saat nanti :) *. Okay, that’s all I wanna say, see you in the next project, dear readers & writing fellows… Kowawa!! :D

Picture : http://iheartclassics.tumblr.com

SAH!

“Kamu minta mahar apa, Nyd?”

“Satu set home theater!”

“Nydia, bukannya yang lumrah itu seperangkat alat sholat?”

“Aduh Dion, jadi kamu cuma menganggapku seharga mukena?”

“Alat sholat itu, justru tanggung jawabnya lebih berat sayang, artinya kau harus lebih rajin sholat setelah menikah.”

“Umm..kalau begitu, seperangkat alat sholat dan satu set home theater!”

“Haha..kau ini! Ya sudah, nanti kubelikan semua yang kauminta, asal kamu ga nonton drama melulu ya..”

****

“Saya terima nikahnya Nydia binti Zahir dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.” ucap Dion tegas dan lancar, sambil menjabat tangan ayah Nydia.

“Bagaimana, para saksi? Sah?” tanya penghulu kepada tiga orang saksi yang hadir. Satu orang kerabat Dion, satu orang kerabat Nydia dan satu orang lainnya merupakan pejabat setempat.

“Sah!” jawab para saksi bersamaan, yang menimbulkan kelegaan luar biasa di hati Dion, Nydia serta orangtua mereka.

Tiba-tiba saja Nydia teringat sebuah parodi di salah satu social media, yang berbunyi “Now I pronounce you as husband and wife. You may change your soc-med status.”, dan ia terkikik. Seluruh ruangan serta-merta melirik pada Nydia, tapi tak berani bertanya. Hanya Dion yang mendekat ke telinga kanannya sambil membisikkan sesuatu.

“Hai istriku, kenapa kamu cekikikan sendiri?”

“Hai suamiku, sekarang aku sudah berganti genre menjadi komedi. Mungkin besok action. Lusa thriller. Atau kembali lagi pada drama. Tapi tenang saja suamiku, film favoritku adalah cerita yang akan kujalani setiap hari denganmu.”

Dion dan Nydia saling tersenyum penuh arti—lagi, terkaget saat fotografer meminta keduanya untuk berpose dengan buku nikah baru mereka.

weheartit by cheetah

Menikahlah Denganku

“Kamu tau film 10 Things I Hate About You ga?”

“Umm..engga. Bagus ya?”

“Drama remaja gitu sih. Di akhir cerita ada band yang pentas di atap gedung, latar belakangnya laut, keren bangetttt!!! Tapi yang lebih keren lagi, puisi yang dibacain sama tokoh utama ceweknya, so sweeeettt..”

Dion menepuk pelan kepala Nydia. Tiap hari gadis itu selalu saja membahas adegan-adegan romantis dalam film-film drama yang pernah ditontonnya. Entah sudah berapa banyak koleksi film yang dimiliki Nydia, yang pasti seluruhnya ber-genre drama. Terpaksa Dion selalu mendengarkan ocehan-ocehan imajinatif Nydia, walaupun Dion berpendapat, tidak ada satupun di antara kisah itu yang terjadi di alam nyata.

Hari ini, Dion tidak ingin mendengar roman picisan lagi. Dengan menggenapkan keberanian dari seluruh penjuru hatinya, Dion menuliskan beberapa baris kalimat di kertas putih polos, yang kemudian diselipkannya dalam dvd drama terbaru pesanan Nydia.

Nydia, Aku tidak punya kalimat puitis seperti dialog film-film romansa. Tapi aku janji, cerita masa lajangmu akan berakhir bahagia. Mungkin ada sekuel, yang nanti menguji rumah tangga kita. Tapi aku yakin, kita akan mampu menghadapinya bersama. Jadi, menikahlah denganku… -Dion

Nydia membaca tulisan tangan Dion di atas kertas putih polos itu. Dia tertegun sejenak, lalu berlari menuju Dion yang sedang memilih surat kabar baru di penjual kaki lima.

“Dion! Kamu tau puisi yang terselip di dvd-ku barusan?”

“Oh..itu..mmm..”

“Itu lebih indah dari dialog semua drama yang pernah kutonton!”

Dion dan Nydia saling tersenyum penuh arti, tidak sadar akan abang penjual koran di dekat mereka yang memandangi keduanya dengan bingung.

Inspired by My Favorite Teen-Drama-Comedy-Movie : 10 Things I Hate About You (Picture : Courtesy of Wikipedia)

Ini Bukan Judul Terakhir

Evita memulaskan maskara hitam di bulu mata kanannya. Lalu melakukan hal yang sama untuk bulu mata kirinya. Pipinya sudah bersemu merah jambu, dan glitter di kelopak matanya berkilau terkena pantulan cahaya lampu kaca rias. Sentuhan akhir, Evita memulaskan lipstik merah mawar di bibirnya. Sempurna. Siapapun yang melihat Evita malam ini pasti terpesona oleh kecantikannya yang klasik.

Terlebih saat Evita begitu menghayati perannya sebagai Gertrude di atas panggung, jiwa setiap manusia yang duduk di hadapannya seolah terbius masuk ke dalam alur cerita. Drama tragis yang juga menyertakan lelaki tampan pendatang baru sebagai pemeran Hamlet itupun berhasil menguras air mata penonton di akhir pementasan. Tepukan riuh membahana terdengar, saat tirai diangkat kembali dan para pemeran membungkuk hormat serentak, ke arah penonton yang hampir seluruhnya memberikan standing ovation.

“Kita tidak jadi pergi besok kan? Hamlet bukanlah judul drama terakhir yang kita pentaskan di kota ini kan? Lihat saja respon penonton tadi.. kita pasti bisa bertahan di kota ini!” Evita berusaha menegaskan kesuksesannya malam ini pada sang sutradara teater.

“Evita, sekarang dengarkan aku baik-baik..” ucap sang sutradara, mimik mukanya serius. “Hamlet ini bukan judul pementasan kita yang terakhir. Tapi, judul-judul berikutnya, tidak akan ada peran utama untukmu di dalamnya.”

Bersamaan dengan sutradara mengucapkan kalimat yang membuat jantung Evita serasa berhenti berdenyut itu, seorang gadis muda yang wajahnya belum pernah dilihat Evita sebelumnya, berjalan mendekati sang sutradara.

“Oh kau sudah datang rupanya. Evita, kenalkan. Ini Darcia, penggantimu. Dia masih muda, sudah memiliki jam terbang sangat tinggi di teater ibukota.” lanjut sang sutradara dingin.

Evita tidak bisa membalas senyum Darcia. Ia hanya terpaku membisu di tempatnya berdiri, melihat gadis yang jauh lebih muda, lebih cantik, dan lebih berbakat yang kini merebut karir impiannya. Kisah sedih Gertrude ternyata bukan sekadar peran baginya.

Inspired by Shakespeare's Hamlet (Picture : Courtesy of Wikipedia)

Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

Dahulu kala, dalam sebuah rumah kaca di desa Toiletries. Hiduplah satu tabung Odol berwarna biru. Dia sangat pelit, tidak mau gel putih miliknya berkurang barang satu senti-pun.

“Hai Kenari, aku bosan. Apakah kau mengenal seseorang yang bisa kuajak bermain?” tanya Odol, pada burung berbulu kuning yang sedang bernyanyi riang di pucuk pohon konifer, yang tumbuh di samping rumahnya.

“Ya, aku pernah melihat seseorang. Berjalanlah ke arah barat melalui hutan pinus, nanti kau akan menemukannya. Rumahnya sangat besar, dan banyak sekali mainan di dalamnya.” jawab Kenari, lalu melanjutkan nyanyiannya.

“Baiklah. Tolong jaga rumahku selama aku pergi.” pesan Odol pada Kenari.

Odol berjalan ke arah barat, menelusuri hutan pinus yang hijau. Sesampai di ujung hutan itu, Odol melihat sebuah rumah besar.

“Tidak, ini bukan besar. Ini rumah raksasa!” ucap Odol takjub.

Odol merasa takut, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia berjalan mengendap-endap ke arah rumah itu, memanjat menuju jendela yang terbuka, melompat masuk dan mendarat di atas meja makan.

“Uwoww!!!” pekik Odol, matanya membelalak melihat semua makhluk yang ada di situ.

“Hai, siapa kau?” sapa Garpu.

“Aku Odol, aku datang dari desa Toiletries di seberang hutan.” jawab Odol seraya membetulkan tutup tabungnya. “Tempat apa ini?” sambung Odol, matanya berkeliling menyisir tiap sudut ruangan.

“Ini desa Cuttlery.” jawab Pisau, merasa terancam dengan kehadiran Odol yang mendadak menjadi pusat perhatian.

“Hei tunggu, Sikat Gigi, bukankah kau juga berasal dari desa Toiletries?” teriak Sendok ke arah wastafel.

Sikat Gigi terbangun mendengar namanya dipanggil, ia mengerutkan bulu-bulu putihnya dan menjawab malas “Ada apa Sendok?”.

“Lihat ini, Sikat Gigi, Odol datang dari desa yang sama denganmu.” jelas Sendok bersemangat.

Sikat Gigi berdiri, lalu melompat lincah ke atas meja makan.

“Hai, aku belum pernah melihatmu di desaku.” ucap Odol gugup.

“Aku juga. Itu pasti karena Manusia langsung membawaku ke rumah ini setelah selesai memolesku di desa Toiletries.” kata Sikat Gigi.

“Manusia?” tanya Odol bingung.

“Ya, raksasa yang menghuni rumah ini.” jelas Sikat Gigi.

“Kau pasti menyukainya.” sambung Sikat Gigi. “Dia merawat kami semua agar selalu bersih dan rapi.”

Tepat saat Sikat Gigi selesai mengucapkan itu, sesosok raksasa masuk ke dalam ruangan. Sesaat kemudian dia langsung menyadari keberadaan Odol di atas meja.

“Wah, sudah lama sekali aku membutuhkan ini.” ucapnya gembira, menyambar Odol dengan tangan kirinya seraya mengambil Sikat Gigi dengan tangan kanannya, lalu berjalan ke arah wastafel. Manusia itu mulai membuka tutup tabung Odol, mengoleskan gel putih Odol di sepanjang bulu Sikat Gigi, lalu menggosokannya ke permukaan keras benda-benda putih di bagian dirinya yang mengeluarkan suara saat ia berbicara.

Odol terpaku menyaksikan gel putihnya berkurang, tapi anehnya dia tidak protes. “Sepertinya aku jatuh cinta pada desa ini.” batin Odol, tersenyum ke arah Sikat Gigi. Sejak saat itu, Odol tinggal dalam rumah Manusia bersama Sikat Gigi, serta seluruh penghuni desa Cuttlery.

-Tamat-

-

Dedicated to Odol (Picture : http://emailleschilder.com)

Merindukanmu Itu Seru

Merindukanmu, siang dan malam.

Tertatih-tatih berusaha meneladanimu.

Merindukanmu, fajar dan petang.

Berperang dengan nafsu, yang tak lelah menyelimutiku.

-

Aku sadar, ini harapan yang terlalu liar.

Dengan dosaku yang bergunung-gunung, dan catatan amalku yang begitu ringan.

Manalah mungkin, di hari akhir nanti, aku dapat berjumpa denganmu?

Tapi tetap saja, aku merindukanmu, wahai junjunganku.

-

Dalam Raudhah yang sejuk, aku berdiri menghadap sekat indah, mengarah ke makam-mu.

Kuhantarkan serangkai shalawat, mewakilkan salam rinduku yang membuncah.

Berdesakkan bersama mereka, yang bertubuh dua kali lebih besar dariku, pun tak mengapa.

Karena aku tahu, mereka juga sangat rindu padamu.

-

Merindukan manusia lain, kurasa lebih banyak menyiksa.

Dan pada akhirnya, yang kudapat hanyalah sia-sia.

Tapi merindukanmu, memberiku kekuatan untuk bertahan hidup.

Dan katakanlah padaku, apakah yang lebih seru daripada menjalani hidup?

Tentangmu yang Selalu Manis

Udara pagi menyesak masuk melalui hidung Tobi, menuju paru-parunya, kemudian mengalir memenuhi kepalanya. Segar sekali, menghilangkan kepenatannya seketika. Tobi berlari dengan kecepatan sedang mengitari padang rumput yang salah satu sisinya berbatasan dengan langsung dengan laut. Tak hanya indra penciumannya, saat ini indra penglihatannya pun dimanjakan. Terlebih dengan pemandangan riangnya anak-anak kecil yang bermain bersama di rerumputan, menunggu orang tua mereka selesai lari pagi.

Tobi berbelok ke arah dermaga. Seorang pria berusia 40-an yang mengenakan t-shirt dan celana pendek sudah menunggunya di situ.

“Kau yakin, ingin melakukan ini?” tanya pria itu setelah Tobi berdiri bersebelahan dengannya, menghadap ke arah laut.

“Ya. Pastikan saja wanita itu hancur perlahan-lahan hingga ke titik nadirnya.” ucap Tobi datar, namun matanya memancarkan secercah luka lama.

****

“Nona, apa komentarmu soal kasus berlian itu?” tanya seorang wartawan, yang sudah membuntuti dan memotretnya sejak Sarah keluar dari pintu gedung apartemennya. Belasan pertanyaan yang sama juga dilontarkan oleh wartawan-wartawan lain yang mengelilinginya begitu sesak. Belum lagi kilatan blitz foto dan sorot lampu kamera, membuat Sarah semakin sulit bernapas.

Sarah tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia mempercepat langkahnya memasuki pintu gedung pengadilan. Raut kecewa tampak di wajah para wartawan setelah sosok Sarah menghilang di balik pintu.

-

weheartit by kaitlinmonroe

-

Sarah terhenyak di kursi yang didudukinya sejak setengah jam lalu, demi mendengar vonis yang dijatuhkan hakim untuknya. Dia tidak siap dengan keadaan yang berbalik 180⁰ hanya dalam hitungan hari. Seluruh sel tubuhnya memberontak, tapi saat ini, bintang jatuh sekalipun tidak dapat mengubah kesialan yang menimpanya.

Di sisi lain kota, Tobi tersenyum puas mendengar berita tentang putusan pengadilan atas Sarah. Pria yang ditemuinya di dermaga tempo hari sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Tobi menutup telepon, lalu mengambil remote control dan menyalakan televisi. “Revenge is always sweet, baby..” bisik Tobi, menikmati sisa hari dengan penuh kemenangan.

Senyum, Untukmu yang Lucu!

Sofia mendengarkan penjelasan pemandu wisata dengan antusias. Ini pertama kalinya ia mengunjungi planetarium yang dari luar berbentuk seperti mata raksasa.

“Hai, kau dari negara mana?” sapa pengunjung yang berdiri di sebelah Sofia, memecah konsentrasinya.

“Aku dari Indonesia. Kau dari mana?” balas Sofia ramah.

“Aku dari Brazil. Boleh kufoto?” tanya lelaki berparas hispanik itu, seraya mengangkat kamera yang tergantung di lehernya.

“Foto? Untuk apa?” kata Sofia bingung.

“Untuk blog perjalananku.” ucap lelaki itu dengan senyum mengembang.

“Oh, oke..” kata Sofia ragu, tapi tak tega untuk menolak.

Beberapa kali jepret dengan pose yang berbeda, lalu ‘sesi pemotretan’ terhenti karena pemandu meminta seluruh peserta rombongan tur untuk memasuki ruang IMAX.

Sofia sangat terpukau dengan pertunjukan 3D bersuara menggelegar yang ditayangkan dalam ruang IMAX, matanya tak sedetikpun beralih dari layar. Sofia bahkan tidak menyadari, lelaki Brazil yang duduk satu deret lebih rendah di bawahnya asyik memotret Sofia berkali-kali, dengan mengatur ISO tinggi pada kameranya.

-

(Picture : http://freepicturesweb.com)
-

Sofia sedang bersantai di kamarnya, saat pembantunya mengetuk pintu.

“Non Sofia, ada paket buat Non.” kata wanita paruh baya itu memberikan bingkisan seukuran buku tulis tebal pada Sofia.

Sofia mengernyit, sembari membaca alamat pengirim yang tercantum. Bingkisan itu dari Davi. Sosok berwajah hispanik yang ia temui dalam tur terakhirnya, berkelebat di benak Sofia. Sebelum berpisah di bandara, peserta rombongan tur memang saling bertukar alamat, tapi Sofia tak mengira bahwa akan ada yang benar-benar menggunakan daftar alamat itu untuk mengirimkan sesuatu.

Sofia membuka kertas pembungkusnya perlahan, seolah tak ingin merusak kertas bermotif cantik itu. Isinya tidak membuat Sofia terkejut, hanya sebuah photobook berwarna dasar hitam dengan desain digital, walau sebagian foto candid di dalamnya membuat Sofia berdecak kagum. Begitu pula dengan kata-kata pada halaman terakhir photobook itu : “Senyum, untukmu yang lucu!”, yang tercetak di atas foto close up Sofia, masih tidak mengejutkan Sofia. Hal yang mengejutkan Sofia adalah kata-kata yang tercetak di atas foto close-up Davi, tepat bawah foto close-up Sofia : “Senyum, dariku kakak tirimu.”

Inilah Aku, Tanpamu.

(Picture : http://freepicturesweb.com)

-

Inilah aku, tanpamu.

Setumpuk buku, dan satu cangkir. Harusnya, ada dua (cangkir) ya?

Sejumput kenangan, akan nyanyian dari ujung telepon sana. Kau masih ingat, kenapa kau menciptakan lagu itu?

Seuntai tanya, tentang cerita dalam majalah. Kenapa akhir kisah kita, tak sama dengan yang kau tulis itu?

Ya, salahkan jarak. Atau waktu yang tidak tepat.

Tapi lihat, profesimu sekarang. Apa kau bisa merasakan, arti jarak dan waktu?

- -

Inilah aku, tanpamu.

Segenggam harap, ada yang menaruh cangkir lain di mejaku. Kau tahu, meja ini terlalu sepi.

Setangkup mimpi, dapat berbahagia sepertimu. Kau tahu, senyummu sungguh membuatku iri.

Sekeranjang semangat, untuk menata kembali hidupku. Namun entahlah, aku masih saja menulis tentangmu di sini.

Ya, aku menyedihkan. Tidak beranjak menghampiri kenyataan.

Tapi tunggu, sebentar lagi. Apa kau bersedia datang, ke pesta pernikahanku?

Aku Benci Kamu Hari Ini..

“Syukurlah semuanya lancar.” desah Vanya lega, seraya menyesap kopi dalam cangkir putih di mejanya.

Krriiiiiiingg! Telepon di meja Vanya berbunyi.

“Ya, Selamat Siang..”

“Vanya, ke kantor saya sekarang.” suara manajernya terdengar di ujung lain telepon.

Vanya menutup telepon dan berjalan menuju ruang kerja manajernya.

“Iya Pak?” tanya Vanya di depan pintu ruangan manajernya. Matanya melirik ke sisi lain ruangan dan menyadari bahwa para klien dari perusahaan parfum, yang baru tadi pagi menyetujui konsep Vanya untuk peluncuran produk baru mereka minggu depan, juga berada di situ. Manajernya memberi isyarat pada Vanya untuk masuk ke dalam ruangan.

“Begini Vanya, klien kita baru saja mendapat kabar bahwa konsep yang kau tawarkan tadi serupa dengan acara peluncuran parfum kompetitor mereka yang sedang berlangsung hari ini! Saya tidak mau tahu bagaimana hal itu sampai terjadi, tapi kau harus membuat konsep lain dan mempresentasikan lagi sore ini juga!” kata manajernya tegas, ekspresi wajahnya agak menakutkan.

“Kalau sampai sore ini belum ada konsep pengganti yang lebih baik, terpaksa kami harus membatalkan kontrak dengan perusahaan anda!” tambah salah seorang klien itu dengan ekspresi wajah seribu kali lebih menakutkan dari manajernya, tidak mempedulikan ekspresi Vanya yang masih kebingungan.

****

“Vanya, untuk apa kau bawa-bawa syal di hari yang cerah begini?” tanya Airel, teman kuliah Vanya, saat mereka berdua makan siang bersama di sebuah kafe bergaya etnik.

“Oh, itu contoh warna untuk proyek yang sedang kukerjakan.” jawab Vanya, melipat syal berwarna fuschia dan putih yang sedari tadi digenggamnya, lalu memasukkan dua syal itu ke dalam tote bag-nya.

Hey, bagaimana hubungan dengan kekasih barumu? Dia menyenangkan?” lanjut Vanya lagi.

“Iya, dia sangat perhatian, aku sedang menimbang-nimbang akan menghadiahkan apa di valentine’s day nanti.” jawab Airel, lalu menyeruput jus stroberi-nya.

“Hmm bagaimana dengan couple perfumes? Kebetulan aku sedang mengorganisir peluncurannya dua minggu lagi, kau bisa dapat harga promo.” ucap Vanya.

“Wah, di mana kau akan mengadakan peluncurannya? Outdoor atau indoor?” tanya Airel antusias, lalu menyerbu Vanya dengan sederet pertanyaan lainnya.

Merasa Airel bukan saingannya karena tidak berkerja di industri yang sama, Vanya memberitahu garis besar dari rencana peluncuran produk yang sedang dikerjakannya itu.

****

Vanya terhenyak di kursinya, jari-jari tangannya berada di atas keyboard laptop-nya, tapi dia tidak tahu harus mengetik apa. Ia tidak bisa berpikir tentang konsep baru. Pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan, “Bagaimana bisa? Siapa? Mengapa? Satu-satunya orang di luar perusahaannya yang mengetahui rencana peluncuran itu adalah… Airel!”.

Vanya terkejut sendiri saat mengingat fakta itu. “Tidak mungkin. Sejak kapan Airel bekerja di bidang EO sepertiku? Dan mengapa dia tidak pernah bilang apa-apa padaku?” tanya Vanya pada dirinya sendiri.

Sesuatu berwarna putih dan fuschia di layar televisi mengalihkan perhatiannya. Itu Airel. Sedang diwawancarai secara live oleh reporter berita siang, dengan latar belakang dekorasi bernuansa putih dan fuschia.

“Airel, aku benci kamu hari ini, dan hari-hari setelah ini.” bisik Vanya, di matanya ada kilatan api yang terbungkus bulir-bulir air mata.

(Picture : http://freepicturesweb.com)
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 118 other followers